Showing posts with label Antanan. Show all posts
Showing posts with label Antanan. Show all posts

Thursday, April 9, 2009

Pegagan (Centella asiatica, (Linn), Urb.)

Pegagan (Centella asiatica, (Linn), Urb.)
Sinonim : = Hydrocotyle asiatica, Linn. = Pasequinus, Rumph.
Familia : Umbelliferae

Uraian :
Terna liar, terdapat di seluruh Indonesia, berasal dari Asia tropik. Menyukai tanah yang agak lembab dan cukup mendapat sinar matahari atau teduh, seperti di padang rumput, pinggir selokan, sawah, dan sebagainya. Kadang-kadang di tanam sebagai penutup tanah di perkebunan atau sebagai tanaman sayuran (sebagai lalab), terdapat sampai ketinggian 2.500 m di atas permukaan laut. Pegagan merupakan terna menahun tanpa batang, tetapi dengan rimpang pendek dan stolon-stolon yang merayap dengan panjang 10 cm - 80 cm, akar keluar dari setiap bonggol, banyak bercabang yang membentuk tumbuhan baru. Helai daun tunggal, bertangkai panjang sekitar 5 cm - 15 cm berbentuk ginjal. Tepinya bergerigi atau beringgit, dengan penampang 1 cm - 7 cm tersusun dalam roset yang terdiri atas 2 - 10 helai daun, kadang-kadang agak berambut. Bunga berwarna putih atau merah muda, tersusun dalam karangan berupa payung, tunggal atau 3-5 bersama-sama keluar dari ketiak daun. Tangkai bunga 5 mm - 50 mm. Buah kecil bergantung yang bentuknya lonjong/pipih panjang 2 - 2,5 mm, baunya wangi dan rasanya pahit.

Nama Lokal :
Daun kaki kuda (Indonesia), Pegaga (Ujung Pandang); Antanan gede, Antanan rambat (Sunda), Dau tungke (Bugis); Pegagan, Gagan-gagan, Rendeng, Kerok batok (Jawa); Kos tekosan ( Madura), Kori-kori (Halmahera);

Penyakit Yang Dapat Diobati :
Hepatitis, Campak, Demam, Amandel (Tonsilis), Sakit tenggorokan; Bronkhitis, Infeksi dan Batu saluran kencing, Mata merah, Wasir; Keracunan, Muntah darah, Batuk darah, mimisan, Cacingan, Lepra;

Pemanfaatan :
BAGIAN YANG DIPAKAI : Seluruh tanaman.

KEGUNAAN :
1.Infectious hepatitis, campak (measles).
2.Demam, radang amandel (tonsillitis), sakit tenggorok, bronchitis.
3.Infeksi dan batu sistem saluran kencing.
4.Keracunan Gelsemium elegans, arsenic.
5.Muntah darah, batuk darah, mimisan.
6.Mata merah, wasir.
7.Sakit perut, cacingan, menambah nafsu makan.
8.Lepra.

PEMAKAIAN: 15 - 30 gram pegagan segar, direbus, minum. Atau dilumatkan, peras, minum airnya.

PEMAKAIAN LUAR : Dilumatkan, ditempel ke bagian yang sakit. Dipakai untuk: Gigitan, ular, bisul, luka berdarah, TBC kulit.

CARA PEMAKAIAN :
1. Kencing keruh (akibat infeksi/batu sistem saluran kencing):
30 gram pegagan segar direbus dengan air cucian beras dari bilasan
kedua.

2. Susah kencing: 30 gram pegagan segar dilumatkan, tempel di pusar.

3. Demam:
Segenggam daun pegagan segar ditumbuk, kemudian ditambah
sedikit air dan garam, saring. Diminum pagi-pagi sebelum makan.

4. Darah tinggi:
20 lembar daun pegagan ditambah 3 gelas air, direbus sampai
menjadi 3/4-nya. Sehari diminum 3 x 3/4 gelas.

5. Wasir:
4-5 batang pegagan berikut akar-akarnya direbus dengan 2 gelas air
selama � 5 menit. Minum rebusan ini selama beberapa hari.

6. Pembengkakan hati (liver) :
240 gram - 600 gram pegagan segar direbus, minum secara rutin.

7. Campak: 60 -120 gram pegagan direbus, minum

8. Bisul :
30 gram - 60 gram pegagan segar direbus, diminum. Pegagan segar
dicuci bersih, dilumatkan ditempelkan ke yang sakit.

9. Mata merah, bengkak :
Pegagan segar dicuci bersih, dilumatkan, diperas, airnya disaring.
Teteskan ke mata yang sakit 3 - 4 kali sehari.

10. Batuk darah, muntah darah, mimisan :
60 - 90 gram pegagan segar direbus, atau diperas, airnya diminum.

11. Batuk kering :
segenggam penuh pegagan segar dilumatkan, peras. Ditambah air
dan gula batu secukupnya. Minum.

12. Lepra :
3/4 genggam pegagan dicuci lalu direbus dengan 3 gelas air,
sampai menjadi 3/4 -nya. Saring, diminum setelah dingin, sehari 3 x
3/4 gelas.

13. Penambah nafsu makan :
1 genggam daun pegagan segar direbus dengan 2 gelas air sampai
menjadi 1 gelas. Minum sehari 1 gelas.

14. Teh daun pegagan segar berkhasiat :
Pembangkit nafsu makan, menyegarkan badan, menenangkan,
menurunkan panas, batuk kering, mengeluarkan cacing di perut,
mimisan.

15. Lalaban pegagan berkhasiat segar berkhasiat :
Membersihkan darah, terutama pada bisul, tukak berdarah.
Memperbanyak empedu, sehingga memperbaiki gangguan
pencernaan.

Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS : Rasa manis, sejuk. Anti infeksi, antitoxic, penurun panas, peluruh air seni. KANDUNGAN KIMIA : Asiaticoside, thankuniside, isothankuniside, madecassoside, brahmoside, brahminoside, brahmic acid, madasiatic acid, meso-inositol, centellose, carotenoids, garam-garam mineral seperti garam kalium, natrium, magnesium, kalsium, besi, vellarine, zat samak. Senyawaan glikosida triterpenoida yang disebut asiaticoside dan senyawaan sejenis, mempunyai kasiat anti lepra (Morbus Hansen),
sumber iptek.net.id

Saturday, December 6, 2008

TANAMAN OBAT PEGAGAN GANTINYA GINKO BILOBA

Produk berbasis Ginko biloba untuk memperbaiki daya ingat akhir-akhir ini mudah dijumpai di pasar. Sayang, tanaman itu bukan berasal dari negeri kita tapi dari kawasan subtropis. Negeri kita yang dikenal sebagai a mega biodiversity country memiliki tanaman obat serupa. Tanaman obat Centela asiatica L. namanya, atau dikenal dengan pegagan. Jika produk berbasis Ginko biloba mahal, mengapa tidak berpaling ke negeri sendiri?

Orang Jawa mengenal Centella asiatica L. sebagai antanan. Ada pula yang menyebutnya ganggagan, kerok batok, panegowang, rendeng, atau calingan rambut. Sementara orang Sunda menamainya antanan gede. Beberapa daerah lain memiliki nama lokal sendiri: kos tekosan (Madura), pagaga (Makassar), dau tungke (Bugis), kori-kori (Halmahera), kolotidi manora (Ternate). Di Barat sono sebutannya gotu kola. Meski belum banyak dimanfaatkan, masyarakat tradisional sudah memakainya untuk pengobatan. Utamanya oleh orang Asia, termasuk Indonesia. Bisa dikonsumsi dalam bentuk segar, dimasak menjadi sayuran, atau dijus sebagai minuman.

Menurut catatan, asal tanaman obat ini kepulauan sepanjang Samudera Indonesia dan di wilayah Asia Tenggara. Selain banyak tumbuh di Indonesia, juga di pesisir timur Madagaskar, dan Mauritius. Pegagan biasanya memilih tempat yang basah, rawa-rawa, atau di sepanjang tepi sungai. Kalau di negeri kita, banyak ditemukan terutama di daerah dataran tinggi dan berbagai tempat seperti sawah, perkebunan teh, dll.

Pegagan termasuk tanaman tahunan daerah tropis yang berbunga sepanjang tahun. Bentuk daunnya bulat, batangnya lunak dan beruas, serta menjalar hingga bisa mencapai semeter tingginya. Pada tiap ruas akan tumbuh akar dan daun dengan tangkai daun panjang dan akar berwarna putih. Dengan berkembang biak secara vegetatif seperti itu, ia cepat beranak-pinak. Jika keadaan tanahnya bagus, tiap ruas yang menyentuh tanah akan tumbuh menjadi tanaman baru.

Sebagai makanan otak
Bagian yang dimanfaatkan sebagai obat ialah daunnya dan bagian yang berada di atas permukaan tanah.

Sebagai tanaman berkhasiat obat, pegagan telah dimanfaatkan terutama oleh masyarakat India, Pakistan, Malaysia, dan sebagian Eropa Timur sejak ribuan tahun lalu. Ia dipercaya bisa meningkatkan ketahanan tubuh (panjang umur), membersihkan darah, dan memperlancar air seni. Orang-orang Timur Jauh di Eropa bahkan menggunakannya untuk menyembuhkan lepra (penyakit menular kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae) dan tuberkulosis (TBC).

Manfaat penting lainnya, memberi efek positif terhadap daya rangsang saraf otak, dan memperlancar transportasi darah pada pembuluh-pembuluh otak. Pegagan juga dipercaya bisa menanggulangi luka bakar, sirosis hati, keloid, skleroderma, gangguan pembuluh vena, penyakit traumatis, lupus, serta meningkatkan fungsi mental.

Bahkan saat ini sudah dimanfaatkan sebagai tonik untuk memperkuat dan meningkatkan daya tahan otak dan saraf. Tanaman ini juga digunakan secara oral maupun topikal untuk meningkatkan sirkulasi darah pada lengan dan kaki, mencegah varises, dan salah urat.

Selain dapat membantu meningkatkan daya ingat, mental, dan stamina tubuh, pegagan juga dapat membantu menyeimbangkan energy level serta menurunkan gejala stres dan depresi.

Dari uji klinis di India, tanaman ini dapat meningkatkan IQ, kemampuan mental, serta menanggulangi lemah mental pada anak-anak. Penelitian lain membuktikan, tanaman centella dapat meningkatkan kemampuan belajar dan memori seseorang. Karena manfaatnya itu, tanaman ini juga dikenal sebagai "makanan otak".

Di antara sekian banyak kandungan bahan aktif pada tanaman obat centella seperti asam bebas, mineral, vitamin B dan C, bahan utama yang dikandungnya adalah steroid yaitu triterpenoid glycoside. Triterpenoid mempunyai aktivitas penyembuhan luka yang luar biasa. Beberapa bahan aktif akan meningkatkan fungsi mental melalui efek penenang, antistres, dan anticemas.

Asiatosida berfungsi meningkatkan perbaikan dan penguatan sel-sel kulit, stimulasi pertumbuhan kuku, rambut, dan jaringan ikat. Dosis tinggi dari glikosida saponin akan menghasilkan efek pereda rasa nyeri. Dikatakan juga, saponin yang terkandung dalam tanaman ini mempunyai manfaat mempengaruhi collagen (tahap pertama dalam perbaikan jaringan), misalnya dalam menghambat produksi jaringan bekas luka yang berlebihan.

Bikin umur panjang
Manfaat yang berhubungan dengan fungsi saraf dan otak telah dibuktikan lewat berbagai penelitian. Sebanyak 30 orang pasien anak-anak yang menderita lemah mental menunjukkan kemajuan yang cukup berarti setelah diberi perlakuan dengan ramuan tanaman obat centella selama 12 minggu. Sebanyak enam pasien sirosis hati menunjukkan perbaikan (kecuali yang kronis) setelah dua bulan meminum ramuan centella.

Penelitian lain menunjukkan, berbagai penyakit seperti skleroderma, gangguan pembuluh vena, maupun gangguan pencernaan rata-rata dapat disembuhkan dengan ramuan itu hingga 80% setelah 2 - 18 bulan. Pada orang dewasa dan tua penggunaan centella sangat baik untuk membantu memperkuat daya kerja otak, meningkatkan memori, dan menanggulangi kelelahan.

Centella juga bermanfaat bagi anak-anak penderita attention deficit disorder (ADD). Hal ini karena adanya efek stimulasi pada bagian otak sehingga meningkatkan kemampuan seseorang untuk lebih konsentrasi dan fokus. Di samping itu juga mempunyai efek relaksasi pada sistem saraf yang overaktif.

Pendapat lain menyatakan, dalam pengobatan Ayurveda di India tanaman ini dikenal sebagai herba untuk awet muda. Juga diketahui sebagai memperpanjang usia. Hal ini terbukti dari pengamatan, gajah yang kita kenal memiliki umur panjang karena satwa ini memakan cukup banyak tanaman centella.

Mengingat manfaatnya, beberapa negara telah melakukan pembudidayaan, misalnya Hawaii. Bahkan di Oregon, AS, tanaman ini dibudidayakan di rumah kaca oleh Pacific Botanicals, pertanian herba organik. Namun, sebagian besar pasokan pasar berasal dari India yang kualitasnya kurang bagus dan biasanya berwarna kecoklatan. Kandungan bahan aktif masih cukup baik jika diproses dalam keadaan segar atau kering segar.

Nah, jika tidak mau diolok-olok pikun padahal usia belum tua, cobalah mengonsumsi pegagan.

sumber:
http://www.indomedia.com/intisari/2001/Mei/pegagan.htm
http://herbarus.multiply.com/journal

Tanaman Obat Antanan Membuat Panjang Umur

Dalam pengobatan tradisional Cina, tanaman obat antanan menempati tempat teratas, di samping jamur lingzhi ataupun ginseng, karena kemampuannya mengobati banyak penyakit. Bahkan, seorang herbalist (ahli tanaman berkhasiat) Cina, Li-Ching Yun, bisa berumur sampai 256 tahun dan tetap bugar karena tiap hari memakan daun dan batang antanan mentah. Masyarakat Cina percaya, kandungan senyawa kimia bermanfaat dalam daun antanan, setara dengan jamur lingzhi dan umbi ginseng.

ANTANAN (Centella asiatica) diam-diam telah menjadi bawaan utama mereka yang berkunjung ke daratan Cina dalam berbagai bentuk, mulai dari yang berbentuk serbuk sampai yang sudah dikemas jadi pil dan kapsul.
Tanaman obat antanan itu memang dikabarkan berkhasiat ampuh memulihkan sistem kerja tubuh, menurunkan kolesterol dan gula darah, menstabilkan kerja hormon tubuh, sehingga bisa membuat seseorang panjang umur karena kesehatan dan kebugarannya terjaga.

Antanan merupakan tanaman herba menahun, tumbuh liar pada tanah lembab, seperti pematang, tepian parit, atau tebing tanah. Berbatang merayap, banyak menghasilkan cabang, dan membentuk rumpun.

Dulu tanaman obat ini ditemukan dalam rujak-cuka bersama keratan sayur dan umbi-umbian lain. Sekarang, walau dalam jumlah terbatas, masih bisa dijumpai untuk lalap di rumah makan ala Sunda. Para petani pun sering menyantapnya sebagai teman makan siang di sawah karena antanan termasuk jenis lalap yang digemari dan berkhasiat untuk menjaga kesehatan. Penyantapnya jadi jarang terserang penyakit musiman, seperti flu, demam, bahkan batuk-batuk.

Dalam Buku "Tanaman berkhasiat obat Indonesia" susunan Hembing Wijayakusuma (1992), antanan, pegagan, "ji xue cao" mengandung senyawa-senyawa berkhasiat obat, seperti asiatikosida (triterpenoids), karotenoids, asam madasiatika, mesoinositol, serta sederet garam-garam mineral bermanfaat. Tidak heran kalau tanaman ini digunakan di banyak kawasan Asia dan Afrika untuk menangkal penyakit lepra, campak, hepatitis, demam, bronhitis, radang amandel, keracunan logam berat, muntah darah, wasir, cacingan, juga penambah nafsu makan.

Dalam pengobatan tradisional Cina, antanan menempati tempat teratas, di samping jamur lingzhi ataupun ginseng, karena kemampuannya mengobati banyak penyakit. Bahkan, seorang herbalist (ahli tanaman berkhasiat) Cina, Li-Ching Yun, bisa berumur sampai 256 tahun dan tetap bugar karena tiap hari memakan daun dan batang antanan mentah. Masyarakat Cina percaya, kandungan senyawa kimia bermanfaat dalam daun antanan, setara dengan jamur lingzhi dan umbi ginseng.

Dalam Buku "Obat asli Indonesia" susunan Dr Seno Sastroamijoyo (1962), diuraikan bahwa antanan memiliki khasiat paling tinggi di antara tanaman berkhasiat obat. Berfungsi memperkuat lambung dan menambah nafsu makan, obat luka, obat batuk dan flu, obat sakit perut dan cacingan, membersihkan darah, bahkan obat kencing-darah dan koreng akibat sifilis.

Sumber:
H Unus Suriawiria Dosen senior ITB Pemerhati bioteknologi dan agroindustri
sumber :http://www.kompas.com/kompas-cetak/0204/30/iptek/anta10.htm

Sunday, November 9, 2008

The Effect of Aquoeus Extract of Pegagan Leaves (Centella asiatica L.) on Cognition and the Level of Monoamine Neurotransmitters in the Hippocampus of Old Male Rats (Rattus norvegicus L.)

Annisa Rahmah Furqaani
School of Life Sciences and Technology, ITB

Lulu Lusianti Fitri
School of Life Sciences and Technology, ITB

Mariana Rahmasari
School of Life Sciences and Technology, ITB

Summary
Pegagan (Centella asiatica) has been scientifically proven influence the central nervous system (CNS), particularly in improving energy stimulation to brain nerves as well as to enhance learning and memory process. The aim of the research was to investigate the effect of aqueous extract of C. asiatica leaves on cognition and the level of monoamines (dopamine, norepinephrine, epinephrine, dan serotonine) in the hippocampus of old male wistar rats (Rattus norvegicus L.). Fifty old male wistar rats (16 weeks in age, body weight range 250-300 g, x = 289.394 ? 2.266 g) were divided into five group which consisted of ten individual in each group. Two control groups were established (one group of control blank, CB; and a group received only aquabidest, CS), and three treatment groups received aqueous extract of C. asiatica leaves with doses of 100 (T1), 200 (T2) and 300 (T3) mg / kg body weight. The aqueous extract of C. asiatica leaves were given by oral injection during eight weeks and at the same time the cognition tests using water-E maze were done once a week. By the end of examination, rats were decapitated and the brain?s hippocampus were isolated in order to measure the level of monoamines using High Performance Liquid Chromatography. Results showed that the treatment groups were significantly quicker to reach the target and had fewer errors to reach the goal in the water-E maze compared to the control group (P<0,05). size="2">
Keywords: Centella asiatica, monoamine neurotransmitters, water-E maze, learning process, memory, Rattus norvegicus

Hasil Penelitian Daun Pegagan (Antanan)

Pengaruh Ekstrak Air Daun Pegagan (Centella asiatica L.) Terhadap Kemampuan Kognitif Dan Kadar Neurotransmiter MonoAmin.

Annisa R. F.
Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH)-ITB

Ringkasan :
Pegagan (Centella asiatica) telah diketahui mampu mempengaruhi sistem saraf pusat, meningkatkan daya rangsang saraf otak, serta meningkatkan kemampuan belajar dan mengingat (Kumar & Gupta, 2002; Rao et al., 2005). Untuk menguji kemampuan C. asiatica lebih lanjut maka dilakukan penelitian tentang pengaruh pemberian ekstrak air daun C. asiatica terhadap kemampuan kognitif (terutama uji kemampuan belajar dan mengingat) dan kadar neurotransmiter monoamin (dopamin, norepinefrin, epinefrin, dan serotonin) pada hipokampus tikus (Rattus norvegicus L.) Wistar jantan dewasa. Penelitian ini dilakukan pada lima puluh ekor tikus berumur 16 minggu, dengan berat badan rata-rata 289,39 � 2,27 g (berkisar antara 250-300 g). Seluruh tikus dibagi rnenjadi lima kelompok (setiap kelompok terdiri dari sepuluh individu), yaitu kelompok kontrol yang tidak diberi perlakuan apapun (KN), kelompok kontrol yang diberi perlakuan dengan pelarut akuabides (KP), serta tiga kelompok perlakuan ekstrak air daun C. asiatica masing-masing dengan dosis 100 mg/kg bb (PI), dosis 200 mg/kg bb (P2), dan dosis 300 mg/kg bb (P3). Pemberian ekstrak air daun C. asiatica terhadap tikus dilakukan secara oral selama delapan minggu dan uji kognitif dengan perangkat Water-E Maze dilakukan sekali setiap minggu.

Untuk mengetahui terjadinya proses belajar dan mengingat, maka pada akhir pengujian seluruh tikus didekapitasi dan hipokampus diisolasi untuk dilakukan pengukuran kadar neurotransmitter monoamin dengan menggunakan HPLC (High Performance Liquid Chromatography). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok perlakuan lebih cepat dalam mencapai sasaran dan melakukan lebih sedikit kesalahan dalam menyelesaikan uji Water-E Maze dibandingkan dengan kelompok kontrol secara nyata (P<0.05).>efek antistress, juga berperan dalam proses potensiasi jangka panjang (LTP), pembentukan memori jangka panjang (LTM) serta meningkatkan kemampuan belajar. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak air daun C. asiatica dapat meningkatkan kemampuan kognitif tikus dengan mempengaruhi modulasi neurotransmiter monoamin pada hipokampus tikus.

Effect of Centella asiatica on cognition and oxidative stress in an intracerebroventricular streptozotocin model of Alzheimer's disease in rats

Veerendra Kumar MH, Gupta YK.
Neuropharmacology Laboratory, Department of Pharmacology, All India Institute of Medical Sciences, Ansari Nagar, New Delhi, India.

Summary:
1. Centella asiatica, an Indian medicinal plant, has been described as possessing central nervous system activity, such as improving intelligence. In addition, we have demonstrated that C. asiatica has cognitive-enhancing and anti-oxidant properties in normal rats. Oxidative stress or an impaired endogenous anti-oxidant mechanism is an important factor that has been implicated in Alzheimer's disease (AD) and cognitive deficits seen in the elderly.

2. Intracerebroventricular (i.c.v.) streptozotocin (STZ) in rats has been likened to sporadic AD in humans and the cognitive impairment is associated with free radical generation in this model. Therefore, in the present study, the effect of an aqueous extract of C. asiatica (100, 200 and 300 mg/kg for 21 days) was evaluated in i.c.v. STZ-induced cognitive impairment and oxidative stress in rats.

3. Male Wistar rats were injected with STZ (3 mg/kg, i.c.v.) bilaterally on the days 1 and 3. Cognitive behaviour was assessed using passive avoidance and elevated plus-maze paradigms on the days 13, 14 and 21. Rats were killed on the day 21 for estimation of oxidative stress parameters (malondialdehyde (MDA), glutathione, superoxide dismutase and catalase) in the whole brain upon completion of the behavioural task.

4. Rats treated with C. asiatica showed a dose-dependent increase in cognitive behaviour in both paradigms. A significant decrease in MDA and an increase in glutathione and catalase levels were observed only in rats treated with 200 and 300 mg/kg C. asiatica.

5. The present findings indicate that an aqueous extract of C. asiatica is effective in preventing the cognitive deficits, as well as the oxidative stress, caused by i.c.v. STZ in rats.

KEYWORDS :
ageing � Alzheimer's disease � Centella asiatica � learning and memory � oxidative stress � streptozotocin

Resep Obat dari Tanaman Pegagan

Pegagan (Centella asiatica L. Urban)
from :warintek.ristek.go.id

Pegagan termasuk suku atau familia Apiaceae. Tumbuh menjalar di atas tanah terutama di tempat yang banyak terkena sinar matahari langsung tetapi cukup lembab.
Nama lain : pegaga, daun kaki kuda, daun penggaga, pegago (Sumatera); antana, cowet gompeng, gagan-gagan, penigowang, calingan rambat (Jawa); bebele, paiduh (Nusa Tenggara); wisu-wisu, kisu-kisu (Sulawesi); dogauke (Irian); ji xue cao (Cina).
Kandungan : senyawa asiaticosida, senyawa antilepra, garam kalium, magnesiu, kalsium, besi, tanin.

Kegunaan :
Lepra. Segenggam pegagan segar, cuci, rebus dengan 2 gelas air sampai menjadi 3/4 gelas. Minum 3 kali @ 3/4 gelas per hari.

Hipertensi. 20 helai daun pegagan segar rebus dengan 2 gelas air sampai menjadi 3/4 gelas, saring, minum 3 kali @ 3/4 gelas.
Ambeien. 4-5 batang pegagan dan akarnya dicuci, rebus dengan 2 gelas air selama 5 menit, saring, minum rebusan ini 2 kali sehari @ 1 gelas selama beberapa hari.

Demam. Segenggam pegagan dicuci, lumatkan, beri 3/4 gelas air dan garam, aduk, saring. Minum pagi hari sebelum sarapan.

Demam yang tidak diketahui penyebabnya. Segenggam penuh daun pegagan dicuci, lumatkan, beri 1/2 gelas, saring, beri garam. Minum pagi hari sebelum sarapan. Hari berikutnya segenggam penuh daun pare dibuat sama seperti di atas. Lakukan selang-selang selama 10 hari.
Melancarkan air seni. Segenggam daun pegagan dicuci, lumatkan, tempelkan pada pusar.

Campak. 2 gengam daun pegagan dicuci, rebus dengan 2 gelas air sampai airnya tinggal 1 gelas, minum setiap hari sekali sampai sembuh.

Batuk. Segenggam pegagan segar, cuci, lumatkan, beri air 3/4 gelas dan gula batu, aduk, saring. Minum sekali sehari sampai sembuh.

Mimisan. Segenggam daun pegagan dicuci, rebus dengan 3/4 gelas air, saring, minum. Ulangi 3 kali sehari.

Sakit kepala. Segenggam daun pegagan, 1/4 sendok jintan dicuci, rebus dengan segelas air sampai tinggal setengah, saring, beri 1 sendok madu sebelum diminum.

Mata merah, bengkak. Segenggam daun pegagan dicuci, lumatkan, peras, saring, teteskan ke mata yang sakit 3-4 kali sehari.

Menambah nafsu makan. Segenggam daun pegagan segar dicuci, rebus dengan 2 gelas air sampai airnya tinggal segelas. Minum sehari segelas.

SUMBER :
Dalimartha, Setiawan. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Ungaran : Trubus Agriwidya, 1999
Muhlisah, Fauziah. Tanaman Obat Keluarga. Jakarta : Penebar Swadaya, 1999.
Tampubolon, Oswald T. Tumbuhan Obat. Jakarta : Penerbit Bhratara, 1995.
Tanaman Obat Keluarga. Jakarta : PT. Intisari Mediatama, 1999.
From: Hawaiian Ecosystems at Risk project, http://www.hear.org/starr/hiplants/images/hires/html/starr_020803_0094_centella_asiatica.htm


Centella asiatica
From Wikipedia, the free encyclopedia

Centella asiatica is a small herbaceous annual plant of the family Mackinlayaceae or subfamily Mackinlayoideae of family Apiaceae, and is native to Sri Lanka, northern Australia, Indonesia, Iran[1], Malaysia, Melanesia, New Guinea, and other parts of Asia. Common names include Gotu Kola, Asiatic Pennywort, Luei Gong Gen, Takip-kohol, Antanan, Pegagan, Pegaga, vallaarai (???????), Kula kud, Bai Bua Bok (???????), and Brahmi (although this last name is shared with Bacopa monnieri and other herbs). In Assamese it is known as Manimuni. It is used as a medicinal herb in Ayurvedic medicine and traditional Chinese medicine. Botanical synonyms include Hydrocotyle asiatica L. and Trisanthus cochinchinensis (Lour.) In sinhalese (Sri Lanka) Gotu = conical shape and Kola= leaf

Description
The stems are slender, creeping stolons, green to reddish green in color, interconnecting one plant to another. It has long-stalked, green, reniform leaves with rounded apices which have smooth texture with palmately netted veins. The leaves are borne on pericladial petioles, around 20 cm. The rootstock consists of rhizomes, growing vertically down. They are creamish in color and covered with root hairs.

The flowers are pinkish to red in color, born in small, rounded bunches (umbels) near the surface of the soil. Each flower is partly enclosed in two green bracts. The hermaphrodite flowers are minute in size (less than 3 mm), with 5-6 corolla lobes per flower. Each flower bears five stamens and two styles. The fruit are densely reticulate, distinguishing it from species of Hydrocotyle which have smooth, ribbed or warty fruit.

The crop matures in three months and the whole plant, including the roots, is harvested manually.

Habitat
Centella grows along ditches and in low wet areas. In Indian and Southeast Asian centella, the plant frequently suffers from high levels of bacterial contamination, possibly from having been harvested from sewage ditches. Because the plant is aquatic, it is especially sensitive to pollutants in the water, which easily are incorporated into the plant.

Culinary use
Centella is used as a leafy green in Sri Lankan cuisine. It is most often prepared as mallung; a traditional accompaniment to rice and curry, and goes especially well with vegetarian dishes such as parippu' (dhal), and jackfruit or pumpkin curry. It is considered quite nutritious. In addition to finely chopped gotu kola, mallung almost always contains grated coconut and may also contain finely chopped green chillies, chille powder (1/4 teaspoon), tumeric powder (1/8 teaspoon) and lime (or lemon) juice.

A variation of the extremely nutritious porridge known as Kola Kenda is also made with Gotukola by the Sinhalese people of Sri Lanka. Gotukola Kenda is made with very well boiled redrice (with extra liquid), cococnut milk and Gotukola which is liquidised. The porridge is accompanied with Jaggery for sweetness.

Centella leaves are also used in the sweet "pennywort drink."

Medicinal effects
Gotu kola is a mild adaptogen, is mildly antibacterial, anti-viral, anti-inflammatory, anti-ulcerogenic, anxiolytic, a cerebral tonic, a circulatory stimulant, a diuretic, nervine and vulnerary.

When eaten raw as a salad leaf, pegaga is thought to help maintain youthfulness. In Thailand cups with gotu kola leaves are used as an afternoon pick me up. A decoction of juice from the leaves is thought to relieve hypertension. This juice is also used as a general tonic for good health. A poultice of the leaves is also used to treat open sores. Interestingly, chewing on the plant for several hours induces entheogenic meditation, similar to the effects of salvia divinorum, although this practice is widely considered dangerous, as it can cause temporomandibular joint pains.[citation needed]

Richard Lucas claimed in a book published in 1979 that a subspecies "Hydrocotyle asiatica minor" allegedly from Sri Lanka also called "Fo ti tieng", contained a longevity factor called 'youth Vitamin X' said to be 'a tonic for the brain and endocrine glands' and maintained that extracts of the plant help circulation and skin problems. However according to master herbalist Michael Moore, it appears that there is no such subspecies and no Vitamin X is known to exist. Nonetheless some of the cerebral circulatory and dermatological actions claimed from centella (as hydrocotyle) have a solid basis.

Several scientific reports have documented Centella asiatica's ability to aid wound healing, which is responsible for its traditional use in leprosy. Upon treatment with Centella asiatica, maturation of the scar is stimulated by the production of type I collagen. The treatment also results in a marked decrease in inflammatory reaction and myofibroblast production.
The isolated steroids from the plant have been used to treat leprosy. In addition, preliminary evidence suggests that it may have nootropic effects. Centella asiatica is used to re-vitalize the brain and nervous system, increase attention span and concentration, and combat aging. Centella asiatica also has anti-oxidant properties. It works for venous insufficiency. It is used in Thailand for opium detoxification.

It is one of the constituent of Indian summer drink "thandaayyee"

Ayurvedic View

In India it is popularly known by a variety of names: Bemgsag, Brahma manduki, Brahmanduki, Brahmi (North India, West India), Gotu kola, Khulakhudi, Mandukparni, Mandookaparni, Mandukaparni (South India), or Thankuni depending on region. It is often confused with Bacopa monnieri which is the more famous "Brahmi", both have some common therapeutic properties in Vedic texts and both are used for improving memory. However, current research[citation needed] has clearly established the difference in pharmacological activities of these two herbs.

Gotu Kola acts as a powerful "brain food", and is known for its ability to enhance mental ability. It supports and improves comprehension , memory and recollection . It coordinates these three aspects of mind power to develop a more effective level of performance. It has a "Vayasthapana effect", meaning that it helps retard the aging process. It is excellent for both internal and topical application. Gotu Kola nourishes the mind-body connection and enhances the psychoneuro immune (PNI) response. It supports the formation of quality blood , as well as the bone marrow and nerves .[citation needed]

Folklore
Gotu Kola is a minor feature in the longevity myth of the Tai Chi Chuan master Li Ching-Yun. He purportedly lived to be 256, due in part to his usage of traditional Chinese herbs including Gotu Kola.

A popular folklore tale from Sri Lanka speaks of a prominent king from the 10th century AD named Aruna who claimed that Gotu Kola provided him with energy and stamina to satisfy his 50-woman harem.

References
^ magiran.com: ??????? ????? ?????? ? ????????? ????? 29
^ doi:10.1016/j.fct.2003.11.004
^ Microsoft Word - ~9446209.DOC
^ Winston, D., Maimes, S., Adaptogens: Herbs For Strength, Stamina, and Stress Relief, 2007, pp. 226-7
^ A Double-Blind, Placebo-Controlled Study on the Effects of Gotu Kola (Centella asiatica) on Acoustic Startle Response in Healthy Subjects. Journal of Clinical Psychopharmacology. 20(6):680-684, December 2000. Bradwejn, Jacques MD, FRCPC *; Zhou, Yueping MD, PhD ++; Koszycki, Diana PhD *; Shlik, Jakov MD, PhD
^ http://www.herbaled.org/media/sp2v3(a).mov Herbal Ed Smith
^ Natures Medicine by Richard Lucas et al. Prentice Hall, 1979
^ http://www.henriettesherbal.com/archives/best/1994/fo-ti.html Michael Moore "Fo ti"
^ Widgerow, Alan D.; Laurence A. Chait (2000-07). "New Innovations in Scar Management" (abstract). Aesthetic Plastic Surgery 24 (3): 227�234. Springer New York. doi:10.1007/s002660010038. ISSN: 0364-216X (Print) 1432-5241 (Online). Retrieved on 2007-01-28.
^ B. M. Hausen (1993)Centella asiatica (Indian pennywort), an effective therapeutic but a weak sensitizerContact Dermatitis 29 (4), 175�179 doi:10.1111/j.1600-0536.1993.tb03532.x
^ Centella asiatica Herbal Extracts, Centella asiatica Natural Herbal Extracts Co2 Herb Extract
^ Bradwejn, J., Zhou, Y., et al, A Double-Blind, Placebo-Controlled Study On The Effects of Gotu Kola (Centella asiatica) On Acoustic Startle Response in Healthy Subjects, J Clin Psychopharmacol 2000 Dec;20(6):680-4
^ Brinkhause, B., Lindner, M., et al, Chemical, Pharmacological and Clinical Profile of The East Asian Medical Plant Centella asiatica, Phytomedicine 2000 Oct;7(5):427-48
^ Bradwejn, J., Zhou, Y., et al, A Double-Blind, Placebo-Controlled Study On The Effects of Gotu Kola (Centella asiatica) On Acoustic Startle Response in Healthy Subjects, J Clin Psychopharmacol 2000 Dec;20(6):680-4
^ Winston, D., Maimes, S., Adaptogens: Herbs For Strength, Stamina, and Stress Relief, 2007, pp. 226-7
^ Cataldo, A., Gasbarro, V., et al, Effectiveness of the Combination of Alpha Tocopherol, Rutin, Melilotus, and Centella asiatica in The Treatment of Patients With Chronic Venous Insufficiency, Minerva Cardioangiol, 2001, Apr;49(2):159-63

Version 1.2, November 2002
Copyright (C) 2000,2001,2002 Free Software Foundation, Inc.
51 Franklin St, Fifth Floor, Boston, MA 02110-1301 USA
Everyone is permitted to copy and distribute verbatim copies
of this license document, but changing it is not allowed

Saturday, November 8, 2008

Antanan (Pegagan) Meningkatkan Daya Ingat

Untuk meningkatkan daya ingat dan kecerdasan eseorang dapat diperoleh dari tanaman Ginko Biloba, khasiat tanaman ini sudah terkenal dan tumbuh di daerah sub tropis.

Salah satu tanaman obat yang tumbuh di Indonesia yang memiliki khasiat sama bahkan memiliki manfaat yang lebih banyak dibanding Ginko Biloba. adalah tanaman Pegagan (Centella asiatica L) atau sering disebut Antanan. Tumbuhnya di tempat yang basah, rawa-rawa, atau di sepanjang tepi sungai. Dan biasanya banyak ditemukan terutama di daerah dataran tinggi dan berbagai tempat seperti sawah, perkebunan teh, dan lain-lain.

Pegagan termasuk tanaman tahunan daerah tropis yang berbunga sepanjang tahun. Bentuk daunnya bulat, batangnya lunak dan beruas, serta menjalar hingga bisa mencapai semeter tingginya. Pada tiap ruas akan tumbuh akar dan daun dengan tangkai daun panjang dan akar berwarna putih. Dengan berkembang biak secara vegetatif seperti itu, ia cepat beranak-pinak. Jika keadaan tanahnya bagus, tiap ruas yang menyentuh tanah akan tumbuh menjadi tanaman baru.

Hasil uji klinis di India, tanaman ini dapat meningkatkan IQ, kemampuan mental, serta menanggulangi lemah mental pada anak-anak. Penelitian lain membuktikan, tanaman pegagan atau Centella ini dapat meningkatkan kemampuan belajar dan memori seseorang. Karena manfaatnya itu, tanaman ini juga dikenal sebagai "makanan otak".

Di antara sekian banyak kandungan bahan aktif pada tanaman centella seperti asam bebas, mineral, vitamin B dan C, bahan utama yang dikandungnya adalah steroid yaitu triterpenoid glycoside. Triterpenoid mempunyai aktivitas penyembuhan luka yang luar biasa. Beberapa bahan aktif akan meningkatkan fungsi mental melalui efek penenang, antistres, dan anticemas. Asiatosida berfungsi meningkatkan perbaikan dan penguatan sel-sel kulit, stimulasi pertumbuhan kuku, rambut, dan jaringan ikat. Dosis tinggi dari glikosida saponin akan menghasilkan efek pereda rasa nyeri. Dikatakan juga, saponin yang terkandung dalam tanaman ini mempunyai manfaat mempengaruhi collagen (tahap pertama dalam perbaikan jaringan), misalnya dalam menghambat produksi jaringan bekas luka yang berlebihan.

Mengingat manfaatnya, beberapa negara telah melakukan pembudidayaan,misalnya Hawaii. Bahkan di Oregon, AS, tanaman ini dibudidayakan di rumah kaca oleh Pacific Botanicals, pertanian herba organik. Namun, sebagian besar pasokan pasar berasal dari India yang kualitasnya kurang bagus dan biasanya berwarna kecoklatan. Kita sangat bersyukur, di Indonesia tanaman ini sangat mudah tumbuh dan memiliki kualitas yang sangat baik. Saat ini tanaman pegagan telah dipadukan dengan teh hijau sebagai pilihan terbaru minuman kesehatan. Bisa dibayangkan, teh hijau saja sudah sangat menyehatkan apalagi dipadu dengan daun pegagan yang berkhasiat mencerdaskan otak.
Mari kita jaga kesehatan kita dan keluarga dengan tanaman obat asli Indonesia. Semoga tanaman obat Indonesia dapat menjadi tuan rumah di negara sendiri.

Tanaman Obat Antanan atau Pegagan (Centella asiatica)


Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi: Spermatophyta
Kelas: Dicotyledone
Ordo: Umbillales
Familia: Umbilliferae (Apiaceae)
Genus: Centella
Spesies: C. asiatica & Hydrocotyle asiatica


Pegagan (Centella asiatica) merupakan tanaman liar yang banyak tumbuh di perkebunan, ladang, tepi jalan, pematang sawah ataupun diladang yang agak basah. Tanaman obat ini berasal dari daerah Asia tropik, terssebar di Asia tenggara, termasuk Indonesia, India, Republik Rakyat Cina, Jepang dan Australia kemudian menyebar ke berbagai negara-negara lain. Nama yang biasa dikenal untuk tanaman obat ini selain pegagan adalah daun kaki kuda dan Antanan.

Sejak jaman dahulu, pegagan telah digunakan untuk obat kulit, gangguan syaraf dan memperbaiki peredaran darah. Masyarakat Jawa Barat mengenal tanaman ini sebagai salah satu tanaman untuk lalapan.

Nama Lokal
pegaga (Aceh), daun kaki kuda (Melayu), antanan (sunda), gagan-gagan, rendeng (jawa), taidah (bali) sandanan (irian) broken copper coin, buabok (Inggris), paardevoet (Belanda), gotu kola (India), ji xue cao (Hanzi)

Jenis Pegagan
Pegagan merupakan tanaman herba tahunan yang tumbuh menjalar dan berbunga sepanjang tahun. Tanaman akan tumbuh subur bila tanah dan lingkungannya sesuai hingga dijadikan pennutup tanah. Jenis pegagan yang banyak dijumpai adalah pegagan merah dan pegagan hijau. Pegagan merah dikenal juga dengan antanan kebun atau antanan batu karena banyak ditemukan di daerah bebatuan, kering dan terbuka. Tanaman obat Pegagan merah tumbuh merambat dengan stolon (geragih) dan tidak mempunyai batang, tetapi mempunyai rhizoma (rimpang pendek). Sedangkan pegagan hijau sering banyak dijumpau di daerah pesawahan dan disela-sela rumput. Tempat yang disukai oleh pegagan hijau yaitu tempat agak lembab dan terbuka atau agak ternaungi. Selain itu, tanaman yang mirip pegagan atau antanan ada empat jenis yaitu antanan kembang, antanan beurit, antanan gunung dan antanan air.

Kandungan
Pegagan yang simplisianya dikenal dengan sebutan Centella Herba memiliki kandungan asiaticoside, thankuniside, isothankuniside, madecassoside, brahmoside, brahmic acid, brahminoside, madasiatic acid, meso-inositol, centelloside, carotenoids, hydrocotylin, vellarine, tanin serta garam mineral seperti kalium, natrium, magnesium, kalsium dan besi. Diduga glikosida triterpenoida yang disebut asiaticoside merupakan antilepra dan penyembuh luka yang sangat luar biasa. Zat vellarine yang ada memberikan rasa pahit.

Sifat dan Manfaat
Tanaman obat Pegagan berasa manis, bersifat mendinginkan, memiliki fungsi membersihkan darah, melancarkan peredaran darah, peluruh kencing (diuretika), penurun panas (antipiretika), menghentikan pendarahan (haemostatika), meningkatkan syaraf memori, anti bakteri, tonik, antispasma, antiinflamasi, hipotensif, insektisida, antialergi dan stimulan. Saponin yang ada menghambat produksi jaringan bekas luka yang berlebihan (menghambat terjadinya keloid)

Manfaat pegagan lainnya yaitu meningkatkan sirkulasi darah pada lengan dan kaki; mencegah varises dan salah urat; meningkatkan daya ingat, mental dan stamina tubuh; serta menurunkan gejala stres dan depresi. pegagan pada penelitian di rsu dr.soetomo surabaya dapat dipakai untuk menurunkan tekanan darah,Penurunan tidak drastis, jadi cocok untuk penderita usia lanjut.

Pengolahan
Kebanyakan pegagan dikonsumsi segar untuk lalapan, tetapi ada yang dikeringkan untuk dijadikan teh, diambil ekstraknya untuk dibuat kapsul atau diolah menjadi krem, salep, obat jerawat, maupun body lotion.

sumber : wikipedia.org
GNU Free Documentation License
Version 1.2, November 2002
Copyright (C) 2000,2001,2002 Free Software Foundation, Inc.
51 Franklin St, Fifth Floor, Boston, MA 02110-1301 USA
Everyone is permitted to copy and distribute verbatim copies
of this license document, but changing it is not allowed.